Selasa, 27 September 2016

Kaidah Kesopanan


Kaidah Kesopanan
Masyarakat yang menginginkan hidup aman, tentram dan damai tanpa gangguan, maka bagi tiap manusia perlu adanya suatu “tata”. Tata itu berwujud aturan-aturan yang menjadi pedoman bagi segala tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup, sehingga kepentingan masing-masing dapat terpelihara dan terjamin. Setiap anggota masyarakat mengetahui hak dan kewajiban masing-masing. Tata itu lazim disebut kaidah (berasal dari bahasa Arab) atau norma (berasal dari bahasa Latin) atau ukuran-ukuran. Norma-norma itu mempunyai dua macam isi, dan menurut isinya berwujud: perintah dan larangan. Apakah yang dimaksud perintah dan larangan menurut isi norma tersebut? Perintah merupakan kewajiban bagi seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang baik. Sedangkan larangan merupakan kewajiban bagi seseorang untuk tidak berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang tidak baik.
Kaidah kesopanan adalah ketentuan-ketentuan hidup yang timbul dari pergaulan dalam masyarakat. Dasar dari kaidah kesopanan adalah kepantasan, kebiasaan, kepatutan yang berlaku dalam masyarakat dimana seseorang tinggal. Kaidah ini ditujukan untuk mengatur sikap lahiriyah manusia demi terciptanya ketertiban. Pelanggaran atas kaidah ini menimbulkan sanksi berupa celaan, sikap yang mencerminkan kebencian dari masyarakat, hingga dikucilkan dari pergaulan Contoh Kaidah kesopanan adalah :
-          Minta izin terlebih dahulu apabila mau masuk kerumah orang lain
-          Memberikan tempat duduk kepada perempuan hamil yang tidak mendapatkan tmpat duduk karena kendaraan penuh sesak.
-          Tidak meludah dihadapan oang lain
-          Tidak memberi dan menerima dengan tangan kiri
-          Tidak berjalan didepan orang tua atau guru ketika sedang berjalan bersama
-          Dan lain-lain
Kesopanan adalah budaya yang sudah mengakar sejak zaman nenek moyang kita, sopan adalah budaya yang dalam tingkatanya tergolong dalam tingkatan nomor satu, karena kesopanan merupakan salah satu alat untuk menghormati orang lain dan juga sebagai nilai kepribadian masing-masing, hal itu tentunya sesuai dengan pedoman agama islam yang terdapat dalam Hadits nabi “ Man Laisa Adab Fahua Kadzubab “ yang artinya barangsiapa yang tidak mempunyai adab (sopan santun) diibaratkan seperti lalat.
Maka dari itu tulisan tersebut akan membahas tentang sopan santun. Lalu apa itu sopan santun? Sopan santun adalah peraturan hidup yang dihasilkan sekelompok seseorang dalam pergaulan. Sopan santun bersifat relatif, karena sopan santun antar daerah berbeda-beda tergantung etika sopan santun yang sudah  menjadi khas daerah itu sendiri. Tetapi meskipun setiap daerah memiliki tata cara kesopanan itu sendiri-sendiri, hakikatnya tetap sama, kesopanan untuk menuntun sesorang ke tahap pribadi yang luhur.
Disini saya akan sedikit bercerita tentang pengalaman pribadi saya terkait dengan hal-hal yang bersangkutan dengan kesopanan yakni pelanggaran yang masuk dalam kaidah kesopanan yang pernah saya alami. Saya akan mengambil dua contoh kaidah kesopanan yang pernah saya langgar yaitu “ Memberi dan menerima dengan tangan kiri dan berjalan didepan guru saat berjalan bersama-sama.
Peristiwa ini terjadi kurang lebih 10 tahun yang lalu pada waktu itu saya baru mengenal suasana baru yakni pulau jawa tepatnyan di Desa Kamulan Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek. Pada waktu itu saya sebagai santri baru yang mengikuti kegiatan belajar mengajar di Pondok Pesantren Darissulaimaniyyah. Saat itu saya mengikuti salah satu kegiatan belajar mengajar yang telah diprogramkan oleh Pondok yaitu sekolah Diniyyah yang bertepatan pada waktu itu mata pelajarannya adalah ilmu Tajwid ( ilmu untuk mengetahui cara yang benar membaca Al Qur’an ). Karena saya sebagai anak baru saya masih belum begitu paham bagaimana cara belajar dan apa saja yang dibutuhkan saat pembelajaran berlangsung.
Pada waktu pembelajaran berlangsung dan Ustadz membacakan Kitabnya dan semua santri yang lain mendengarkan dan menyimak kitab yang dimilikinya yang sama dengan kitab yang dibacakan oleh Ustadz.
Karena saya anak baru saya belum mempunyai kitab tersebut, setelah kegiatan pembelajaran berjalan kurang lebih 10 menit Ustadz mengetahui kalau saya tidak mempunyai kitab kemudian Ustadz bertanya kepada saya kenapa gak bawa kitab, saya langsung menjawab dan menjelaskan kalau saya baru pertama kali mengikuti kegiatan belajar mengajar dan belum tahu apa yang harus disiapkan. Setelah itu Ustadz memanggil saya untuk maju kedepan dan memberikan kitab yang ternyata Ustadz mempunyai kitab tidak hanya satu, pada waktu Ustadz mengulurkan tangannya untuk memberikan kitab tersebut kepada saya saya reflek mengulurkan tangan kiri saya untuk menerimanya dan ternyata pada waktu saya mengulurkan tangan kiri saya untuk menerima Ustadz menarik kembali tangannya seolah tidak jadi memberikan kitabnya kepada saya, kemudian saya merasa kebingungan dengan hal itu dan saya menolehkan kepala kepada teman-teman yang ada dikelas itu, kemudian ada salah satu teman yang memberi tahu dengan isaroh mulutnya berucap tangan kanan dengan tanpa suara keras, setelah itu saya mengganti tangan yang saya ulurkan untuk menerima tadi dengan tangan kanan kemudian ustadz mengulurkan tangan yang sudah memegang kitab tadi.  Dan setelah kejadian itu pandangan teman-teman beda terhadap saya seolah-olah saya memang anak yang tidak mengenal kesopanan. Saya merasa dikucilkan oleh teman-teman dan saya merasa malu sekali pada waktu itu.
Contoh yang kedua : ini juga pengalaman pribadi saya yang kurang lebih sudah 8 tahun silam pada waktu itu saya beserta teman-teman dapat undangan Khotmil qur’an didesa dimana terletak Pon-Pes darissulaimaniyyah berdiri. Karena undangannya untuk khotmil qur’an jumlah anak yang diundang sebanyak 29 anak dan dipimpin oleh salah satu pengurus Pondok jadi semua berjumlah 30 orang dan setiap anak akan mndapatkan jatah membaca 1 juz dari Al qur’an yang sudah dibagikan oleh panitia.
Pada saat itu kurang lebih pukul tujuh pagi tepat waktu yang tertera dalam undangan saya dan teman-teman berangkat bersama-sama, karena tempat antara pondok dengan tempat acara khotmil qur’an tidak terlalu jauh kami bersama-sama berangkat dengan berjalan kaki dengan dipimpin oleh salah satu Pengurus (Ustadz) Pondok tersebut, pada waktu diperjalanan semua santri berjalan dibelakang pengurus tersebut kecuali saya yang disitu berjalan berada didepan sendiri, karena saya masih belum mengetahui bahwa hal tersebut adalah melanggar kaidah kesopanan dengan santainya saya berjalan dengan tanpa merasa ada beban apapun. Teman teman mencoba memberikan isaroh dengan berbagaicara ada yang dengan melihat saya dan menggeleng-gelengkan kepala, ada juga yang dengan cara memanggil saya dengan niat supaya saya berjalan kebarisan kebelakang , tapi hal itu semuanya gagal karena kebodohan dan ketidak pahaman saya dengan isaroh teman-teman dan kaidah kesopanan, kejadian itu berlangsung sampai di tempat acara khotmil Qur’an dan saya selama perjalanan tadi tetap diposisi depan pengurus ( Ustadz).  Setelah kejadian itu pandangan teman-teman terasa beda kepada saya dan saya terasa dikucilkan karena kurang sopannya saya terhadap Pengurus Pesantren. Setelah pulang dari kegiatan tersebut dan sudah berada di asrama lagi barulah salah satu teman yang tadi menyaksikan tingkah laku saya menjelaskan bahwa hal seprti itu tidak baik dan melanggar kaidah kesopanan.
Disini saya bisa menyimpulkan Sangat pentingnya kaidah kesopanan bagi kehidupan kita, Kesopanan merupakan perilaku yang sangat terpuji, tidak semua orang memiliki sifat terpuji dengan dengan menyantuni orang disekitarnya, Sopan dalam sikap,perkataan,hati,dan semua yang ada pada diri kita. Hanya kita yang dapat menekuni sifat sopan pada diri kita pada kehidupan setiap harinya. Tidak hanya kepada orang byang lebih dewasa diatas kita namun pada semua kalangan baik itu teman, saudara, adik dan semua orang, jika kita memiliki sifat santun terhadap orang lain maka mereka akan senang dengan kita.

Sekian semoga Bermanfaat.....

1 komentar:

  1. Ceritamu menarik. Kesopanan itu sifatnya lokal, jadi antar tempat dapat berbeda. Orang baru sering melanggar kaidah kesopanan karena ketidaktahuannya. Lain kali, sebelum diunggah kamu baca dulu tulisanmu sambil mengoreksi sehingga dapat memperbaiki kesalahan ketik.

    BalasHapus